Sang Kepuasan, Sang Kebahagiaan

Happiness

Kekayaan identik dengan kelimpahan secara material. Wujudnya adalah memiliki banyak harta atau aset (uang, emas dan harta lainnya). Dengan banyak harta orang dapat memenuhi kebutuhannya akan kenyamanan dan kesenangan termasuk pengakuan sosial dari hidup manusia. Terpenuhinya kebutuhan kenyamanan dan kesenangan termasuk pengakuan sosial akan memberi kepuasan. Tapi kepuasan manusia tidak terbatas – lihat konsep marjinal utilitas dalam ekonomiit wants more! Padahal dalam banyak kesempatan, kita menemukan bahwa kita tak memerlukan sebanyak itu.

Ada yang percaya sumber-sumber pasokan pendukung kehidupan tidak terbatas, selalu me-regenerasi dirinya dan – katanya – cukup bagi seluruh makhluk hidup. Anggaplah demikian, dan jika memang demikian, mengapa itu tidak pernah bisa mencukupi? Memenuhi kepuasan yang selalu menuntut lebih, membuat kita harus mengambil lebih banyak bagian dari ketersediaan pasokan yang terbatas, dimana orang lain juga memenuhi kebutuhannya dari sumber pasokan terbatas yang sama; dengan kata lain, ketika kita mengambil lebih banyak bagian maka berarti kita sedang mengurangi bagian orang lain yang membuat orang lain itu menjadi kekurangan atau mengambil sesuatu yang dibatasi oleh aturan, bukan milik kita. Ini sama dengan bahwa kita sedang mempertahankan eksistensi kita – demi memenuhi kepuasan tiada batas, yakni mencukupi kebutuhan akan kenyamanan dan kesenangan, termasuk pengakuan sosial –  dengan mengesampingkan eksistensi orang lain atau dengan mengabaikan aturan – aturan yang berlaku.

Kepuasan adalah affective, yakni emosi, pengukurannya adalah dengan skala feel happy  atau feel unhappy. Sehingga, katakanlah, kita akan merasa bahagia ketika puas, yakni ketika berhasil memenuhi semua kebutuhan akan kenyamanan dan kesenangan hidup manusia, termasuk pengakuan sosial. Sebaliknya kita merasa tidak bahagia ketika tidak puas, yakni ketika tidak bisa memenuhi harapan untuk memenuhi semua kebutuhan akan kenyamanan dan kesenangan hidup manusia, termasuk pengakuan sosial. Ini adalah konsep kebahagiaan yang, apakah kita menyadari atau tidak,  kita terima hari ini. Tapi seperti yang telah disampaikan bahwa kepuasan itu tiada tepi. Sehingga ketika kebahagiaan di drive oleh kepuasan, maka pengejaran untuk mencapai kebahagiaan itu sendiri menjadi tidak pernah menemukan ujung jalannya. Dan ketika ia di drive oleh kepuasan, maka kebahagiaan yang kita capai, justru berpotensi untuk membuat orang lain menjadi berkurang kecukupannya.

Jika kesimpulan ini tidak tepat, maka apakah yang bisa menjelaskan, misal, tindakan pelanggaran hukum untuk memperkaya diri sendiri, atau adanya penduduk miskin atau di bawah garis kemisikinan dalam sebuah Negara yang menjadi isu karena jumlahnya besar dari total jumlah penduduk? Atau adanya Negara kaya dan Negara yang miskin? Atau Negara miskin (tidak memiliki sumberdaya alam) yang menjadi kaya, dan negara kaya (memiliki sumberdaya alam melimpah) yang menjadi miskin? Alam memang menyebabkan terjadinya variasi – seperti variasi pada proses manufaktur/produksi yang disebabkan oleh alam –  namun variasi yang disebabkan oleh alam ini seperti yang ditunjukan pada proses manufaktur/produksi sepenuhnya bisa di toleransi karena hanya menyebabkan 1% – atau kurang darinya – penyimpangan kualitas produk dari total yang di produksi. Tapi jika penduduk miskin dalam jumlah yang tidak mungkin disebabkan oleh variasi alam maka kita harus menelusuri root cause-nya dari Man dan Method.

Apa yang memberi kita hak untuk menjadi demikian? We’re mankind, but somewhere deep within our own selves we keep and preserve our own beast to protect our existence with its happiness. So, for sufficiency, mutual respect and prosperity of our lives, we have to kill our beast.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s