Fergie, Theatre of Dreams

Fergie
Sir Alex Ferguson
Sumber : Wikipedia

Pasang surut prestasi Manchester United (MU) terjadi setelah era Matt Busby diiringi dengan silih bergantinya pelatih yang menukangi MU. Alex Ferguson, sebelumnya adalah pelatih Aberdeen – Skotlandia, menolak tawaran Barcelona, Arsenal, Rangers dan Tottenham karena lebih tergoda dengan tantangan untuk membangun MU. Kariernya di MU dimulai pada November 1986, menggantikan Roy Atkinson. Tak terlalu sukses di 4 musim awal kepelatihannya. Ketika masih menjadi pemain di Skotlandia Fergie dimasa itu adalah van Nistelrooy-nya MU di era 2000-an. Sebagai pelatih St. Miren dan Aberdeen, Fergie sarat prestasi. Bahkan manajer sekaliber Alex Ferguson, seperti yang disampaikannya di salah satu autobiografinya, perlu menumbuhkan rasa percaya dirinya saat pertama kali menangani MU. Tapi Old Trafford diawal kedatangannya bukannya tanpa masalah. Beberapa pemain alcoholic dan level kebugarannya menyedihkan. Ferguson, bersama-sama dengan Archie Knox asisten manajer saat itu, mengubah kebiasaan buruk itu dan menanamkan disiplin bagi para pemain. Sehingga apa yang membuat manajemen dan banyak orang lain yang terlibat di dalam MU memberi dukungan penuh  kepadanya adalah karena Fergie memiliki visi dan ambisi untuk menjadi pemenang dan punya konsep untuk mewujudkannya.

Musim 1989/1990, Fergie mengangkat Piala FA pertamanya, diikuti Piala Winners Eropa di musim berikutnya dan trofi Liga Inggris pertamanya di musim 1993/1994. Menarik jika setelah 4 musimnya di MU Fergie benar-benar memenuhi visinya dan mengangkat MU menjadi klub terkuat di Liga Inggris dan Eropa beberapa tahun kemudian. Sebelum pensiun, Fergie menghabiskan 26 musim sebagai manajer MU. Selama waktu itu, klub memenangkan 13 gelar liga Inggris, 25 piala domestik, 2 Piala Champion  dan 1 Piala Winners Eropa, plus 1 Piala Intercontinental. Ini dua kali lipat dari prestasi manajer Liga Inggris tersukses sebelumnya. Fergie juga meninggalkan MU bersama bisnis waralaba yang sukses di bidang olah raga.

Tanggung jawab seorang manajer sepakbola di Liga Inggris bervariasi di masing-masing klub. Namun umumnya seorang manajer klub bertanggung jawab pada tim inti yang terdiri atas 24 orang pemain, mengawasi pelatihan yang dijalankan oleh para asisten, dan mengelola para dokter, psikoterapi dan staff lainnya. Sehari-harinya, manajer klub menentukan bagaimana seharusnya sebuah tim dilatih, memilih pemain untuk pertandingan (starter dan cadangannya), memutuskan taktik yang digunakan dan memberi arahan sebelum pertandingan, pada saat istirahat pertandingan dan di akhir pertandingan. Manajer juga ditugaskan untuk membentuk organisasi staff pelatih hingga pengembangan youth player. Namun Fergie berada di posisi yang unik di MU karena masa kerja dan prestasinya yang luar biasa. Ferguson memiliki cakupan kontrol yang lebih luas daripada manajer lain di Liga Inggris. Fergie memainkan peran sentral dalam organisasi MU, bukan hanya mengelola tim utama tapi juga seluruh klub. “Steve Jobs adalah Apple; Sir Alex Ferguson adalah Manchester United, “kata mantan kepala eksekutif klub David Gill. Apa yang dilakukan oleh Fergie dan apa kunci suksesnya adalah hal menarik yang sering dibahas oleh banyak orang, mulai dari orang-orang lingkungan sepakbola hingga kelas manajemen bisnis di Universitas Harvard.

Dulcius ex Asperis

Selalu ada landasan keyakinan dalam setiap tindakan. Dulcius ex asperis, peribahasa Klan Ferguson Skotlandia kuno, atau Sweeter (atau delicious) after difficulties; berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian. Ini adalah landasan keyakinan sederhana yang memotivasi Fergie dalam kerja kerasnya yang terus menerus tanpa putus asa, mengatasi segala hambatan tekanan dari supporter, pers, manajemen dan tingkah laku pemain, ketika melakukan berbagai perubahan besar di tradisi MU. Tidak ada hasil manis tanpa kerja keras, dan setelah kerja keras, maka tunggulah, niscaya hasil akan datang bersama kerja keras itu. Dalam pandangan Fergie, pada dasarnya tak ada rahasia kunci sukes selain kerja keras. Ini sudah dibuktikan Fergie ketika ia menjadi pelatih di Skotlandia sebelumnya dan terakhir dibuktikannya bersama MU.

Otoritas dan Leadership

Tapi keyakinan akan kerja keras yang membuahkan hasil tak dicapai dari sebuah kerja keras yang tanpa arah. Hal pertama yang dilakukan Fergie ketika sampai di MU adalah menegaskan otoritasnya. Jangan pernah kehilangan kendali selama anda yang ditunjuk menjadi manajer adalah kredo Fergie. Tidak peduli anda pemain bintang, tidak peduli anda asisten pelatih hebat, tidak peduli anda tukang sapu senior yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Ratu Inggris, sepak bola yang benar bagi Manchester United dan segala hal lainnya yang harus berlaku di Old Trafford adalah yang benar menurut visi realistis, konsep dan rancangan sistematis yang dibuat Fergie. Titik. Namun bukannya tanpa pendekatan secara personal yang akrab antara pemain, staff dengan pelatih ketika penegakan aturan dan sanksi dijalankan.

Pemain adalah aset untuk mencapai prestasi yang akan memberi benefit bagi klub. Penegakan aturan dengan sanksinya dilakukan justru untuk membangun tanggung jawab pemain terhadap profesinya, membangun pencapaian kinerjanya, dan membangun respect pemain terhadap dewan kepelatihan. Tidak ada tim yang bisa dibangun mencapai prestasi ketika manajer tidak memiliki otoritas, semua akan bertindak menurut sesuka hatinya dan akan ada banyak pihak yang campur tangan ke dalam tim. Sepak bola dalam pandangan Fergie adalah tantangan terus menerus tentang kerapuhan manusia. Pemain menjadi bintang dan selanjutnya ingin menjadi selebriti, ingin menjadi model dan ingin lebih banyak tampil di depan pers dengan glamour atau mulai ikut campur tangan pada kewenangan pekerjaan manajer. Ketika pemain menjadi bintang dan kemudian tiba-tiba merasa lebih hebat dari pelatihnya dan klubnya, maka hanya ada satu pilihan: si pemain harus hengkang dari klub. Kredo ini salah satu kunci sukses Fergie lainnya.

Manajer, dimanapun, selalu tampil dengan “kepribadian ganda”. Disatu sisi harus tegas dengan memberlakukan aturan dan sanksi, mulai dari memberi denda, memutuskan pemain yang tidak diserta dalam pertandingan dan hingga mengirimnya ke bursa transfer; namun juga pada saat yang bersamaan harus cukup terbuka, membina pemain hingga melindunginya dari hujatan supporter atau pers, mendengar keluhan dan mampu memotivasi dengan cara yang elegan, santun, namun memberi tekanan (push) untuk dilaksanakan. Dan tidaklah mudah tampil dengan kepribadian ganda tersebut.

Dalam pandangan Fergie, sisi lainnya dari peran manajer juga seperti guru: menginspirasi anak didiknya untuk menjadi lebih baik dan membantu mereka mencapai cita-citanya dengan memberi pengaruh sikap bertanggung jawab, disiplin, kerja keras, mental juara dan kemampuan teknis. Itu memberi kesempatan bagi pemain untuk berprestasi dan dapat bermain di klub manapun sama baiknya. Ketika para anak muda diberi kesempatan, tidak hanya sedang membangun klub dalam jangka panjang, tapi juga membangun loyalitas. Mereka akan selalu mengingat manajer pertama yang memberi peluang bagi tumbuh kembang mereka. Mereka akan menjadi seperti keluarga dan akan memberikan sebuah kejutan suatu hari. Lihat saja class 92 atau Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo.

Ferguson berbicara penuh semangat tentang menanamkan nilai pada pemainnya. Lebih dari sekadar memberi mereka keterampilan teknis, Fergie mengilhami mereka untuk berusaha lebih baik, tidak pernah menyerah dan menjadi pemenang: “If you give in once, you’ll give in twice“, ini kredo lainnya. Bekerja keras sepanjang hidup adalah bakat. Menjadi pemain MU bukanlah pekerjaan mudah, tapi MU membuat mereka berprestasi dan menjadi bintang. Jadi mereka akan melakukan apa yang diperlukan untuk menang. Menurut Fergie, pemain bola sejati yang ingin berprestasi seperti para pemain MU menyukai manajer yang keras dan disiplin dengan alasan bahwa manajer seperti itu selalu bisa mengantarkan kemenangan bagi tim, dan membuat mereka menjadi pemain bola yang lebih baik serta manajer seperti itu cenderung memiliki loyalitas yang tinggi kepada timnya.

Salah satu tugas penting manajer adalah mengamati segala hal di lingkungan pekerjaannya dengan sangat detil sehingga respon yang tepat dan evaluasi serta perbaikan yang diperlukan dapat segera dilakukan.

“Tahun awal saya di Aberdeen dan Manchester United, saya terbantu dengan kemampuan saya dalam mengamati. Saya menggunakan keahlian itu untuk menilai para pemain, kebiasaan berlatih, suasana hati dan pola perilaku. Beberapa orang masuk ke ruang ganti, tapi sama sekali tidak memperhatikan apapun. Gunakanlah mata anda, karena semuanya ada di luar sana”.

Untuk itu manajer tak dapat menjalankan banyak pekerjaan teknis. Itu yang dilakukan Fergie, ia mendelegasikan banyak pekerjaan teknis kepada para asistennya agar memberi kesempatan yang lebih luas baginya untuk mengamati kinerja tim, pemain, asisten pelatih dan staff lainnya, serta tentu saja bisnis MU. Namun Fergie bukannya tanpa kelemahan emosional di tengah – tengah pernyataannya untuk tidak jatuh cinta kepada para pemainnya. Sebagaimana yang diakuinya, menyampaikan secara langsung alasan kenapa seorang pemain tidak diturunkan dalam satu pertandingan, dan atau menjelaskan kenapa seorang pemain harus dikirim ke bursa transfer, bukanlah hal yang mudah dilakukan, walau manajer sekelas Fergie telah berulangkali menghadapi situasi tersebut. Bagaimanapun, manajer tetaplah seorang manusia. Begitu juga Fergie.

Visi Realistis dan Strateginya

Pengakuan otoritas seorang manajer tidaklah didapatkannya begitu saja, otoritas manajer juga tidak bersifat inherent. Pengakuan otoritas dan respect atas peran manajer muncul ketika kita punya seperangkat konsep visi yang realistis, yang bisa dijabarkan kedalam langkah-langkah tindakan untuk mencapainya, dan tahu cara mencapai dan mengerjakannya, dan kita menjadi bagian dari tindakan itu sendiri. Dengan begitu orang akan rela untuk parkir di belakang mengikuti kita.  Itu peran yang dimainkan Ferguson sehingga ia berperan sentral bagi MU.

Visi Fergie adalah menggeser dominasi Liverpool sebagai klub terkuat masa itu dan membawa kembali kejayaan MU. Dilandasi dengan fakta sejarah bahwa MU pada dasarnya adalah klub besar, terutama di era Busby, maka membangun tim dan membangun klub untuk membawa kembali kejayaan MU kemudian menjadi pondasi dari semua visi dan strategi Fergie. Cara Fergie bisa menyimpulkan hal penting yang menjadi fenomena merosotnya prestasi MU dan bagaimana harus meresponnya juga merupakan keunikan tersendiri dari kemampuannya.

Jangka Pendek – Membangun Tim

Sebenarnya cukup sederhana saja cara berpikirnya. Sepak bola adalah industri result driven. Supporter, pers, dan manajemen tidak peduli apapun yang anda lakukan, mereka hanya akan mengukur kinerja anda dari hasil akhir: menang atau kalah dan dimana posisi anda berada di akhir musim. Solusinya kemudian sederhana: tim tidak dapat mencapai hasil akhir liga untuk berada di papan atas karena sering menderita kekalahan. Menghindari kekalahan dan atau memenangkan pertandingan sebanyak mungkin kemudian menjadi target kerja Fergie dalam jangka pendek. Untuk mencapai ini yang dilakukan adalah membeli pemain matang dan berpengalaman untuk menutup celah kelemahan dan mengganti beberapa pemain yang tidak tampil cukup baik. Strategi ini disebut membangun tim. Kekuatan kunci yang dimiliki Fergie adalah mampu mengidentifikasi bakat, membangun kekuatan dan menyusun tim yang tepat. MU jarang sekali membeli pemain bintang yang sudah jadi, filosofinya adalah bukan tentang mempekerjakan seorang bintang, tapi mempekerjakan pemain yang mampu bermain dengan baik dalam satu tim dan memberi totalitasnya bagi MU.

Kondisi yang sekarang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih membangun klub dalam jangka panjang dengan bersandar pada pengembangan pemain muda, lebih banyak klub ingin mencapai hasil instan dengan belanja pemain bintang dan membayarnya dengan gaji besar. Tak ada stabilitas permainan jangka panjang bisa dibangun dengan strategi seperti itu. Dan alih-alih membangun pemain muda dan menjadi bagian jangka panjang dari sebuah klub, berapa lama seorang pelatih sekarang bisa bertahan di sebuah klub? Itu salah satu yang hilang dari sepak bola yang kita tonton di televisi.

Jangka Panjang – Membangun Klub

Klub tidak bisa terus menerus bersandar pada strategi bongkar pasang pemain. Beresiko karena dapat terjadi pemain yang dibeli tak perform seperti yang diharapkan. Klub juga harus menghemat uang belanja yang keluar dari bongkar pasang pemain, dan yang lebih penting adalah klub perlu stabilitas dan kosnsitensi permainan dalam 8 – 10 tahun, dan konsistensi performance klub dalam jangka panjang ini tidak dapat dicapai dari strategi bongkar pasang pemain. Sehingga solusi jangka panjangnya adalah membangun klub yang bersandar pada pengembangan pemain muda di akademi MU yang dapat memasok secara terus menerus tim utamanya atau bersandar pada pemain muda yang dibeli dari klub lain untuk dilakukan pembinaan dalam jangka panjang. Sekelompuk youth kemudian dilatih bersama sejak umur 13 tahun – 14 tahun dalam satu tim, membangun satu kerjasama dan pemahaman bermain bola secara terus menerus.

Change Management menjadi salah satu keahlian Fergie. Dalam pandangan Fergie, siklus tim yang sukses berlangsung sekitar 4 – 5 tahun sebelum menurun dan perubahan dibutuhkan. Regenerasi kemudian menjadi salah satu ciri Fergie ketika berada di MU. Setidaknya ada 2 regenerasi besar yang dilakukannya selama menukangi MU. Setiap regenarasi dibagi dalam 2 siklus 4 – 5 tahun. Regenerasi kemudian dilandasi oleh sebuah filosofi membangun karakter pemain muda yang ditopang oleh pengalaman pemain senior. Beberapa pemain muda diberi kesempatan masuk tim inti untuk bermain dengan seniornya agar seniornya dapat menularkan sikap profesionalisme dan kemampuan teknis.

Regenerasi pertama dimulai sejak 1991/1992 dengan bangkitnya Class 92: Ryan Giggs, Paul Scholes, Neville bersaudara, Beckham, Nicky Butt; plus beberapa pemain matang berpengalaman: The Great Dane Peter Schmeichel, Roy Keane, Ole Gunnar Solkjaer, Eric Cantona, duo striker York – Cole plus Sheringham dan palang pintu Ronny Johnsen dan Jaap Stamp, dan beberapa yang lainnya. Ini adalah generasi emas pertama binaan Fergie yang malang melintang merajai Liga Inggris dan Eropa selama satu dekade. Regenerasi kedua dimulai di musim 2002/2003 dengan masuknya Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Nemanja Vidic, Rio Ferdinand, Hernandez, Park Ji Sung, Nistelrooy, Michael Carrick, Van Der Sar, Patrice Evra, Phil Jones, Berbatov, Van Persie dan beberapa pemain lainnya, hingga bangkitnya generasi youth angkatan Chris Smailling dan masuknya De Gea.

Bermain Untuk Menang

Statistik menunjukan bahwa MU kerap mencapai kemenangan di 15 menit akhir pertandingan, bahkan setelah tertinggal. Ada yang ingat final dramatis Liga Champion musim 1998/1999, Bayern Muenchen Vs Manchester United? Juara Champion di 2 menit terakhir waktu pertandingan tersisa dengan gol Teddy Sheringham dan Ole Gunnar setelah tertinggal 1 – 0 di sepanjang pertandingan. Atau seperti pertandingan Manchester United Vs Totenham Hotspur musim 2001/20012. Anda unggul 3 – 0 di babak pertama? Tak masalah, lihat saja pembalasan kami di 15 menit akhir babak kedua; dan MU membalasnya dengan 5 gol. MU di era Fergie identik dengan itu. Tapi ini bukannya terjadi begitu saja karena Fergie memang selalu mempersiapkan timnya untuk menang. Fergie meminta pemain berlatih secara teratur untuk menghadapi situasi tersulit dan bagaimana seharusnya bermain jika memerlukan kemenangan dan mencetak gol di 15 menit waktu tersisa.

Apa yang sedang di tanam Fergie pada anak asuhnya adalah berpikir positif bahwa kemenangan selalu terbuka lebar hingga peluit akhir pertandingan, mengantisipasi semua hambatan yang dapat menghalangi tercapainya tujuan dan mengeksploitasi peluang sekecil apapun untuk mengubahnya menjadi keunggulan. Dalam satu musim Fergie selalu merancang kekuatannya dengan merencanakan tim lapis pertama dan lapis kedua dan kombinasi, dan menyiapkan beberapa tim untuk berbagai even, mulai dari Liga Inggris, kejuaraan domestik hingga Liga Eropa.  Ini penting untuk menjaga konsistensi performance selama musim berlangsung.

Manjemen Pertandingan

Formasi pemain disusun 3 hari sebelum pertandingan dan informasi pemain yang diturunkan dalam pertandingan diberitahu 2 jam sebelum pluit pertandingan dimulai. Ini untuk mencegah kebocoran informasi apapun bagi lawan, pers dan spekulasi agen yang pemainnya tidak diturunkan. Semua mulut dikunci rapat hingga hari pertandingan. Taktik yang akan diterapkan dibahas pada hari-hari menjelang pertandingan bersama para asisten pelatih, kemudian diterapkan dalam latihan. Video permainan calon lawan dianalisis kelemahan – kekuatan dan kesempatan untuk mengeksploitasi peluang sekecil apapun menjadi keunggulan; beberapa pola permainan serta beberapa pemain kunci lawan yang akan dihadapi di tandai untuk diberi perhatian khusus dan diantisipasi. Pemain yang tidak disertakan dalam pertandingan di panggil dan diberitahu alasannya secara komprehensif.

Salah satu tugas manajer adalah menyampaikan wejangan secara ringkas selama 4 menit – 6 menit sebelum pertandingan dimulai tentang apa yang diinginkannya dan bagaimana tim harus tampil. Alih-alih menyampaikan sesuatu secara teknis dan kaku, Fergie memiliki cara unik untuk menyampaikannya dengan sebuah bahasa metafora, itu untuk menunjukan rasa hormatnya kepada para pemain yang akan turun bertanding. Waktu break pertandingan 15 menit, Fergie kembali memberi wejangan untuk menegaskan apa yang harus dilakukan tim-nya di lapangan. Itu adalah waktu penting untuk membangun tim kembali. Walaupun temperamen, namun tidak alasan bagi Fergie untuk tampil temperamen, walaupun tim-nya tertinggal, selama mereka menunjukan kerja kerasnya dilapangan. Namun jika kerja keras yang diharapkan tidak tampil di tengah lapangan, maka siap-siap telinga pedas karena Fergie akan memanfaatkannya situasi itu menjadi sebuah kemewahan untuk melampiaskan ledakan amarahnya yang tanpa skala dan menjelaskan bukan penampilan itu yang diharapkannya dari tim. Dalam pandangan Fergie adalah penting untuk memberi tahukan kekurangan dan kelemahan pemain pada saat break atau setelah pertandingan usai; namun segala kritik dan amarah selesai di hari itu semua. Ini bagian dari apa yang disebut sebagai menjaga standar sepak bola MU. Dan itu tak perlu di tunggu sampai keesokan harinya karena esok hari adalah waktu untuk pertandingan lain dan pekerjaan yang lainnya. Selain itu, pemain tak ingin dikritik terus menerus. Jadi harus seimbang, kapan harus berteriak dan kapan harus melakukan pembinaan.

Setelah pertandingan, akan ada wawancara televisi singkat. Setelah kewajiban media, Fergie akan menjamu manajer dan pelatih tim tamu yang bertandang. Hal penting saat menjamu tamu adalah melupakan dan menanggalkan semua emosi atas pertandingan yang telah dilewati, baik menang, kalah, maupun seri. Kita tak perlu menjadikan ini obsesi. Paling tidak, didepan para tamu, untuk menjaga martabat dan dengan bangga menunjukan: “Kami adalah Manchester United”.

Pensiun?

Beradaptasi berarti senantiasa mengubah cara berpikir kita sehingga kita dapat menjadi selalu relevan disegala jaman yang kita lalui. Namun diri kita, manusia, dibatasi oleh banyak hambatan, fisik dan mental, yang membuat kita hingga suatu  titik tertentu dalam hidup kita tak dapat lagi beradaptasi mengikuti perubahan yang terjadi. Dan ketika itu terjadi, maka kita mejadi tidak relevan lagi dengan jaman.

Beradaptasi, menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi adalah salah satu kunci sukses bagi Fergie untuk mampu bertahan selama seperempat abad di MU. Bayangkan apa yang diharus dilakukan pada dirinya sendiri, sejak 1986 hingga era modern konetivitas internet dan digital sekarang ini. Itu adalah kemampuan menyesuaikan diri yang luarbiasa dari seorang manusia yang pernah lahir di masa yang sangat jauh dari perilaku budaya hari ini.  Cara berpikir pemain sekarang ini berubah, cara melakukan bisnis berubah, pihak yang terkait dengan sepak bola semakin komplek. Seperti yang diakui Fergie, dirinya sekarang lebih mellow, dan cenderung menjadi lebih suka mengamati ketimbang bereaksi spontan seperti beberapa tahun sebelumnya.  Kondisi fisik tak bisa di bohongi walaupun semangat masih membara. Banyak hal yang sekarang terjadi di MU sudah diluar kekuatannya lagi untuk bisa terlibat didalamnya. “Saya tahu ini sudah saatnya” ujar Fergie.

Sepakbola, kata Fergie, adalah tentang menyampaikan harapan-harapan dari banyak orang. Dan Fergie sangat sukses men-delivery-kan value itu. Paling tidak satu contoh: final dramatis Liga Champion MU Vs Muenchen tahun 1998/1999. Kita yang menjadi fans MU, yang entah berada di belahan dunia yang mana, bahkan berhari-hari setelah pertandingan masih menjadikan momen itu kesan dalam hidup kita. Itulah yang Fergie benar-benar berhasil sampaikan kepada kita: harapan-harapan yang sangat emosional. Apa yang telah berhasil Fergie sampaikan dan bangun antara kita dengan MU adalah ikatan emosional tiada akhir. Manchester United dan Old Trafford adalah Alex Ferguson. Dan itu kehilangan ruhnya ketika Fergie  tak lagi di sana.

Pustaka:

Elberse, Anita & Dye, Tom. Sir Alex Ferguson: Managing Manchester United, Harvard Business Review, 2012
Ferguson, Alex. Alex Ferguson: My Autobiography. Hodder & Stoughton, London, 2013
Alex Ferguson.  https://en.wikipedia.org/wiki/Alex_Ferguson
Ferguson’s Formula.https://hbr.org/2013/10/fergusons-formula
HBS Cases: Sir Alex Ferguson, Managing Manchester United.http://hbswk.hbs.edu/item/hbs-cases-sir-alex-ferguson-managing-manchester-united.
Manchester United Legend Sir Alex Ferguson Gives Blue Print for Succes. https://www.theguardians.com/football/2013/wep/10/alex-ferguson-manchester-united-blue-print

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s