Gaya Yang Menyeimbangkan Kekuatan Persaingan Global

People

Judul tulisan merupakan pokok pandangan dari buku yang ditulis oleh Thomas L. Friedman berjudul The World is Flat. Release terakhir (3.0) terbit pada tahun 2007. Tak lama setelah perjalanannya ke beberapa tempat, terutama India, Friedman sampai pada kesimpulan tersebut: the world is flat. Ini metafora. Bagaimana “the world is flat” ini dapat dipahami, kami merujuk pada pandangan Nandan Nilekani, CEO Infosys Technologies Limited ketika Friedman mewawancarainya.

“At one point, summing up the implica­tions of all this, Nilekani uttered a phrase that rang in my ear. He said to me, “Tom, the playing field is being leveled.” He meant that countries like India are now able to compete for global knowledge work as never before—and that America had better get ready for this. America was go­ing to be challenged, but, he insisted, the challenge would be good for America because we are always at our best when we are being chal­lenged. As I left the Infosys campus that evening and bounced along the road back to Bangalore, I kept chewing on that phrase: “The playing field is being leveled”. … As soon as I wrote them, I realized that this was the underlying message of everything that I had seen and heard in Bangalore in two weeks of filming. The global competitive playing field was being leveled. The world was being flattened”

Ketika kita sepenuhnya membaca buku tersebut, maka segera akan memahami bahwa Friedman sedang menyampaikan ada kekuatan-kekuatan (kami mengistilahkannya sebaga “gaya” atau force) yang sedang bekerja menyeimbangkan kekuatan persaingan global. Ketika kita bisa memanfaatkannya maka kita akan tampil ke permukaan dan menjadi salah satu penentu keseimbangan kekuatan persaingan global. Berdasarkan pemahaman atas apa yang kami baca maka kami mengartikan bahwa “flatdalam istilah Frieman berarti “setara (equal)” atau “menyeimbangkan (balance)“. Dan berdasarkan definisi tersebut maka the world is flat berarti kekuatan persaingan global sedang diseimbangkan secara terus menerus oleh gaya-gaya tertentu. Kami akan memaparkan pemahaman kami secara ringkas berikut ini.

Mari kita melihat ke sekelililng kita hari ini: tak perlu pergi ke luar negeri untuk dapat menikmati produk makanan fast food tertentu. Mulai dari segala jenis komoditas produk, hingga teknologi, sumber keuangan, sumber daya manusia dari berbagai bangsa dengan beragam budaya dan bahasa, kita bisa menemukannya berada di sekeliling kita hari ini, begitu mudahnya. Sehingga tak perlu bersusah payah melakukan perjalanan berbulan-bulan dengan resikonya – seperti yang dilakukan oleh Columbus dan penjelajah Eropa lainnya di abad pertengahan – untuk mendapatkan dan menemukan apa yang hari ini kita lihat ada di sekeliling kita.  Itu adalah fenomena yang ditangkap hari ini. The world is flat adalah cara Friedman untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi pada peradaban dalam dua dekade terakhir sejak keruntuhan Tembok Berlin tahun 1989. Dalam pandangan Friedman, ada 10 gaya – atau flattener – yang mengarahkan apa yang sedang terjadi saat ini. Kami menyampaikannya secara ringkas berikut ini.

Keruntuhan Tembok Berlin

Tembok Berlin memisahkan Jerman ke dalam dua pengaruh kekuasaan: Blok Barat (liberal – demokrasi) dan Blok Timur (sosialis – komunis). Keruntuhannya tahun 1989 merupakan simbol kebebasan dan keterbukaan bagi demokrasi – liberal dan hak-hak asasi manusia. Dan walaupun ada banyak teori dari segi analisis politik dan ekonomi, namun menurut Friedman, penyebaran informasi yang tak dapat dibendung-lah yang menyebabkan runtuhnya Tembok Berlin.

Adalah hal yang biasa dilakukan oleh negara-negara totaliter tirai besi waktu itu untuk mengendalikan dan membatasi informasi yang boleh diserap oleh warga negaranya agar hal tersebut tidak mempengaruhi ide-ide dan cita-cita ideologisnya. Namun, kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi yang telah dimulai pengembangannya sejak tahun 1980-an, telah berdampak pada penyebaran informasi yang tak dapat dibendung. Device teknologi informasi dan komunikasi (TIK) waktu itu, seperti televisi, telepon, fax telah menyampaikan segala jenis informasi kepada masyarakat yang berada di Blok Timur. Orang yang berada di Blok Timur menerima telepon dari temannya yang tinggal di alam liberal – demokrasi Blok Barat, atau menonton televisi dan menyaksikan berita tentang alam liberal – demokrasi dan hak-hak asasi manusia, atau mendengar tentang kemakmuran yang mungkin bisa dicapai melalui mekanisme pasar bebas yang berasal dari dunia demokrasi. Penyebaran informasi tentang liberalisme – demokrasi, hak – hak asasi manusia dan kemakmuran dari dunia pasar bebas yang tak dapat dibendung kemudian mengarahkan dan membentuk opini publik di Blok Sosialis untuk mendapatkan kemerdekaannya atas demokrasi, hak – hak asasi manusia dan kesempatan dari mekanisme pasar bebas; disisi lain, bahwa dorongan untuk mendapat kemerdekaan atas penindasan yang dirasakannya merupakan dorongan alamiah setiap manusia. Itu semua kemudian memotivasi masyarakat Blok Sosialis Jerman untuk meruntuhkan Tembok Berlin – simbol ketidak adilan dan penjara kebebasan demokrasi dan hak asasi manusia.

Keruntuhan Tembok Berlin adalah simbol kebebasan dan keterbukaan bagi liberalisme – demokrasi dan hak asasi yang mempengaruhi banyak negara. Sejumlah negara memilih menjadi lebih terbuka bagi paham liberal dan demokrasi dari sebelumnya, terutama negara-negara yang sebelumnya mengisolasi dan memproteksi dirinya serta menjalankan pemerintahan dan sistem ekonomi terpusat. Bahwa keterbukaan bagi liberalisme – demokrasi dan hak asasi manusia kemudian selalu diiringi oleh masuknya investasi asing dan mekanisme pasar bebas, begitulah yang terjadi. Dengan demikian, keruntuhan Tembok Berlin sekaligus merupakan pintu gerbang bagi investasi asing dan mekanisme pasar bebas. Negara-negara yang memilih menjadi lebih liberal dan demokratis kemudian membuka lebih lebar kesempatan bagi investasi asing dan mekasnisme pasar bebas. Runtuhnya Tembok Berlin adalah salah satu gaya atau flattener. Dengan runtuhnya Tembok Berlin kekuatan demokrasi – liberal seimbang dengan kekuatan sosialis – komunis; sekaligus pada saat bersamaan membuka kesempatan bagi masyarakat dunia  untuk mendapatkan demokrasi dan hak asasi; dan yang terpenting runtuhnya Tembok Berlin merupakan tonggak sejarah yang mendorong dibukanya kesempatan lebih lebar bagi masyarakat dunia untuk memasuki pasar bebas dan kemudian memberi peluang untuk bersaing seimbang di dalamnya dan juga merupakan gerbang bagi penyatuan Eropa di bawah satu bendera yang memberi, dan menjadi, salah satu kekuatan tersendiri bagi dunia, hal yang tidak akan mungkin pernah dicapai jika Tembok Berlin, simbol ketidak adilan dan penjara kebebasan demokrasi dan hak asasi manusia, masih berdiri kokoh.

Transportasi dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Columbus dan penjelajah Eropa lainnya pada abad pertengahan berjalan ke sepenjuru belahan bumi berbulan-bulan untuk mendapatkan sumber daya. Tapi apa yang dilakukan oleh Columbus dan penjelajah Eropa abad pertengahan kini tak perlu lagi dilakukan karena perkembangan teknologi di bidang transportasi, informasi dan komunikasi telah berhasil mengatasi hambatan jarak, waktu, batas wilayah dan akses informasi. Segera setelah keruntuhan Tembok Berlin, tahun 1990 merupakan tahun fundamental bagi konektivitas global, ditandai dengan bangkitnya internet, world wide web beserta browser-nya dan software yang bisa diintegrasikan ke dalam world wide wibe serta dibangunnya jaringan serat optik yang menghubungkan setiap komputer atau device telekomunikasi apapun yang ada dibelahan bumi mana saja.

Sebagaimana yang bisa kita lihat hari ini, web site menjadi lebih interaktif dari sekedar digunakan untuk posting dan berbagi konten. Kemajuan ini memungkinkan banyak orang dari berbagai tempat terlibat dalam mendisain, mengelola dan bekerja sama untuk sebuah bisnis maupun menyelesaikan pekerjaan. Tempat kerja kita hari ini dipenuhi dengan device TIK yang terkoneksi dengan internet. Kita dapat tersambung secara real time dengan mitra global dari belahan dunia yang manapun dan melakukan secara bersamaan dalam satu waktu sejumlah aktivitas seperti berkomunikasi, berkolaborasi hingga melakukan remote man to machine atas device yang berada di belahan bumi mana saja hingga luar angkasa. Bayangkan manfaat yang kita dapatkan: banyak pekerjaan bisa di delegasikan melewati batas wilayah, waktu dan jarak tanpa perlu kita pergi ke suatu tempat seperti yang dilakukan oleh penjelajah Eropa abad pertengahan.

Konektivitas global kemudian juga memberi kesempatan yang sama bagi tiap individu untuk memperoleh informasi yang sama tentang sumber daya, komoditas produk, pasar, pengetahuan dan informasi lainnya. The playing field is being leveled, menurut Friedman, ketika setiap individu memiliki informasi yang sama dengan yang lain tentang sumber daya, komoditas produk, pasar, pengetahuan dan informasi lainnya; yang karena itu kemudian setiap individu mendapat kesempatan dan peluang yang sama seperti orang lain untuk ikut serta dalam persaingan global dan dapat menjalankan operasinya di manapun di seluruh dunia, atau dalam istilah Friedman yang lain the global competitive playing field is being leveled. Sebagai contoh misalnya, sebuah web site yang sarat dengan informasi beragam komoditas. Kita kapanpun bisa berpartisipasi dan mengambil peran yang kita inginkan dalam rantai pasok global dan memulai bisnis dengan sumber daya yang paling minim. Dan ketika kita melakukan ini, kita tidak sekedar bersaing dalam tingkat persaingan antar individu, namun juga kita sebagai individu memiliki kemampuan untuk bersaing dengan sebuah perusahaan bisnis. Ini adalah dampak dari era konektivitas internet global, dan TIK adalah gaya atau flattener yang mendorong mulai dari bangsa hingga setiap individu di segala penjuru dunia memiliki kesempatan yang sama untuk berperan, mengambil tempatnya dan beroperasi dimanapun dan bahkan memberi peluang bagi seorang individu untuk menjadi penentu yang dapat mempengaruhi keseimbangan kekuatan persaingan dunia.  

Outsourcing, India dan Sumber daya TIK

India adalah salah satu tempat dimana kita bisa menemukan sumber daya unggul di bidang TIK. Walaupun pada dasarnya India memiliki sumberdaya alam untuk di tambang seperti bijih besi, batu bara dan berlian, namun dengan jumlah penduduk yang dimilikinya, sektor industri tersebut tidak mencukupi untuk menjadi sumber kemakmuran bagi bangsanya. Alih-alih bersandar sepenuhnya kepada sektor pertambangan, India kemudian berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya agar memperoleh kesempatan mendapat lapangan kerja dan kemakmuran. Tahun 1951 pemerintah India mendirikan Indian Institutes of Technology (IIT). IIT merupakan salah satu sekolah dengan standar terbaik di dunia. Tempat itu menjadi semacam pabrik yang memproduksi English-speaking engineers expert di bidang TIK, yang hari ini telah mencetak ribuan tenaga ahli yang menyebar di sepenjuru dunia. Namun pada waktu itu, sebagai salah satu negara yang pro sosialis hingga tahun 1990, tak banyak peluang bagi para ahli di bidang ini untuk mendapat pekerjaan yang bagus. Karena situasi tersebut, sejak tahun 1953 sejumlah top expert India telah bermukim di  Amerika. Ilmu pengetahuan Amerika berhutang kepada orang-orang terdidik India yang bermukim di sana.

Seperti yang dikatakan oleh Jack Welch, “India is a developing country with a developed intellectual capability”.  Tak lama setelah keruntuhan Tembok Berlin, pada tahun 1991 India membuka dirinya bagi investasi asing dan kebebasan akses informasi. Bersamaan di tahun tersebut, badai Y2K dan gelembung dot-com datang menjelang, Banyak pekerjaan di bidang TIK dari mitra Amerika-nya di outsource kepada tenaga ahli berbiaya rendah dari India. Dan tentu saja karena India pada waktu itu tak memiliki konektivitas jaringan dan juga tidak mampu mendanainya, maka koneksi jaringan internet berbasis serat optik dibangun oleh mitra Amerika-nya untuk memfasilitasi terlaksananya pekerjaan outsourcing di bidang TIK yang melewati hambatan batas wilayah, jarak dan waktu.

Diakhir 1991, Y2K yang menyebar ancaman menghendaki agar setiap komputer yang ada di dunia di review dan di sesuaikan. Dengan sumber daya TIK murah yang melimpah plus fasilitas koneksi jaringan internet yang telah sedia, India mendapat berkah dari ancaman Y2K. Dengan menggunakan konektivitas global dari setiap workstation yang terhubung dengan serat optik, teknisi India bisa menjangkau setiap komputer di dunia dan melakukan semua penyesuaian. Karena Y2K, industri TIK India meninggalkan jejak mereka di setiap komputer yang ada di seluruh dunia dan ini membangun rasa hormat dunia bagi sektor TIK India. Apa yang telah dilakukan TIK India terhadap Y2K memberi mereka keuntungan lain. Pekerjaan outsource Y2K telah memungkinkan mereka untuk berinteraksi dengan sejumlah perusahaan besar di Amerika dan memberikan pengalaman yang lebih besar terkait bidang TIK. Sebagai hasilnya, mereka mulai belajar dan memahami bagaimana melakukan implementasi dan peningkatan proses bisnis. Sehingga, dari yang sebelumnya hanya melakukan pekerjaan outsource untuk perawatan atau perbaikan, mereka  mulai mengembangkan produk sendiri dan menawarkan berbagai layanan perangkat lunak, pusat data dan konsultasi serta outsourcing proses bisnis kepada dunia. Hal ini membuat perusahaan-perusahaan India masuk jauh lebih jauh ke dalam perusahaan global, dengan kata lain, melalui outsourcing proses bisnis, pusat data, konsultasi dan lain-lain pada dasarnya India sedang mengelola beberapa bagian dari area operasi mitranya dan mitranya sedang memberi tempat kepada India untuk berada di balik layar proses bisnis mereka.

Tak lama setelah Y2K, gelembung dot-com bangkit dengan e-commerce-nya. Pelaku bisnis global kemudian memandang tenaga ahli TIK India telah berhasil menyampaikan sebuah system komplek berkualitas yang bahkan lebih baik dari yang mereka bisa dapatkan dari tenaga TIK lainnya. Dan sekali lagi di era gelembung dot-com mitra Amerika mereka berhutang pada industri TIK India. Menyurutnya gelembung dot-com  sekitar tahun 2007 diiringi oleh krisis kelangkaan modal. Ini memaksa perusahaan – perusahaan yang sedang di danai oleh venture capital untuk mencari cara yang paling efisien namun berkualitas dan rendah biaya dalam melakukan inovasinya. Dan salah satu caranya adalah dengan mereduksi biaya. Melakukan outsource atas sejumlah infrastruktur TIK dan pekerjaan TIK menjadi salah satu pilihan untuk mereduksi biaya. Sekali lagi para expert India di bidang TIK dibutuhkan. Selain karena mereka tersedia dalam jumlah besar dengan biaya murah, juga karena fasilitas konektifitas jaringan internet serat optik yang telah sedia bisa dimanfaatkan, sekali lagi, untuk menempatkan para ahli India di bidang TIK dimanapun berada, mengatasi hambatan batas wilayah, jarak dan waktu untuk berada di belakang layar aktivitas operasi mereka. Satu keunggulan yang kemudian didapatkan India dari investasi asing yang telah mengembangkan jaringan serat optik: seperti orang yang mengeluarkan uang untuk membangun jalan, tapi pengguna jalanlah yang menggunakan jalan tersebut secara gratis.

Keterbukaan India tahun 1990 memungkinkan investasi asing mengembangkan jaringan konektivitas serat optik sehingga India mendapat keuntungan darinya dengan mencapai begitu banyak pekerjaan outsourcing, ini adalah momen bagi India untuk berperan secara global. Ditambah dengan Y2K  dan munculnya gelembung dot-com, memberi kesempatan bagi industri TIK India untuk tampil ke permukaan dan membuktikan bahwa dirinya sejajar dengan negara maju. Tapi apapun itu, semua keuntungan yang diperoleh India terjadi ketika mereka menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang TIK.  India telah menemukan perannya dan karena itu kemudian dapat mengambil tempatnya sebagai salah satu gaya flattener melalui keahliannya di bidang ini dengan terlibat dari belakang layar di banyak perusahaan dunia. Ini menjadikan India bagian penting yang dapat mempengaruhi konektivitas global dan industri serta perdagangan dunia.

Offshoring, Kekuatan Raksasa China

Satu dekade setelah runtuhnya Tembok Berlin, Cina menjadi anggota WTO yang membuatnya tunduk pada aturan hubungan internasional dan perdagangan dunia: sebuah negara dengan tradisi sosialis yang begitu berakar mau membuka dirinya bagi investasi asing dan pasar bebas. Dampaknya kemudian sama seperti runtuhnya Tembok Berlin. Masuknya China adalah simbol kebebasan dan keterbukaan bagi pasar bebas dan investasi asing sebuah negara sosialis, yang berdampak pada banyak negara lain di dunia.

Tapi bukannya tanpa alasan ketika China memutuskan untuk bergabung dengan WTO. Globalisasi dengan pasar bebasnya telah memberi tantangan bagi China. Jika mereka memilih untuk tetap mengisolasi dirinya, maka akan tertinggal dan kehilangan pengaruhnya di dunia. Sehingga tak ada pilihan lain selain berpartisipasi dalam globalisasi dan pasar bebas untuk mempertahankan perannya sebagai salah satu kekuatan dunia. Namun keputusan ini menghendaki agar China melakukan reformasi birokrasi internalnya dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Dengan semangat sosialisme yang telah berakar begitu kuat, maka tak ada peluang bagi China untuk dapat melakukan reformasi birokrasi internalnya dari dalam dengan kekuatannya sendiri. Dengan berpartisipasi menjadi anggota WTO, pada dasarnya China sedang melibatkan pengaruh luar untuk memaksa dapat diselenggarakannya reformasi birokrasinya yang tak dapat dilakukannya sendirian.

Kekuatan China adalah jumlah penduduknya. Sejumlah besar populasi dunia sedang menantikan sumber pendapatan, dan itu memberikan dunia keunggulan tenaga kerja berbiaya rendah. Ditambah berbagai insentif bagi investasi asing, segera China dilirik menjadi tujuan offshoring. Tenaga kerja berbiaya rendah memberi keunggulan bagi negara yang melakukan offshoring-nya disana: harga komoditas yang di manufaktur di China menjadi lebih murah dan lebih mampu bersaing di pasar global. Produk – produk dengan harga yang lebih bersaing datang dari China dan memasuki pasar global. Ini memaksa banyak negara lain, apakah  negara berkembang atau negara maju untuk berkompetisi pada level yang sama dengan China dan pada saat yang bersamaan juga menghadapi kekuatan si Raksasa. Negara berkembang seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Mexico and Brazil didorong untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang telah dilakukan oleh China, yaitu membuka dirinya bagi investasi asing dengan insentifnya untuk mendapat kesempatan menjadi tujuan offshoring yang rendah biaya demi meningkatkan kemampuan bersaingnya di pasar bebas dan pada saat yang bersamaan menyediakan sumber pendapatan bagi warga negaranya. Kita kemudian dapat mencatat beberapa hal atas peran yang dimainkan China sebagai gaya flattener yang mempengaruhi persaingan global:

  1. Keterbukaan China terhadap investasi asing dan pasar bebas adalah tonggak, seperti keruntuhan Tembok Berlin.
  2. China telah menetapkan standar baru bagi dunia melalui harga komoditas produk yang lebih murah, dampaknya bagi negara maju harus bersaing pada level yang sama, dan bagi negara berkembang harus melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan China.
  3. China memberi keunggulan bersaing bagi banyak negara yang melakukan offshoring di wilayahnya, dan dampaknya dengan demikian, industri dan perdagangan dunia menjadi sangat bergantung kepada China.

Namun menjadi tujuan offshoring berbiaya rendah adalah strategi jangka pendek. Adalah sophistical ketika bisnis sepenuhnya bersandar pada tujuan low cost dan low wages tanpa berusaha meningkatkan kualitas, produktivitas dan keahlian teknologi. Keanggotaan China di WTO dan keterbukaannya bagi investasi asing, memberi dirinya kesempatan untuk mentransfer teknologi dan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Hari ini, setelah 16 tahun keanggotaan China di WTO, kami menyimpulkan bahwa China telah berhasil mentransfer pengetahuan dan teknologi dari mitra demokrasi-liberal mereka, juga telah berhasil meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dan produktivitas manufakturnya; dan juga telah berhasil melakukan reformasi birokrasi internalnya. Cina sekarang berada pada level yang sama dengan negara maju. Kita bisa mengetahui ini ketika pada satu kesempatan mereka melakukan uji coba kekuatannya dengan mendevaluasi mata uangnya. Oleh karena itu, peran  yang mereka mainkan sekarang adalah sebagai kekuatan yang menentukan bagi kekuatan lainnya di dunia: The playing field is being leveled.

Logisitk Berbiaya rendah dan Dependable

Sebuah rantai pasokan terdiri atas banyak pihak yang terlibat di dalamnya, yang pada dasarnya semua bertujuan untuk memenuhi permintaan pasar. Dalam rantai pasokan, material mengalir dari bentuk komoditas dasar hingga menjadi produk jadi. Setiap pihak yang terlibat di dalamnya melakukan proses transformasi material – menambahi nilai di setiap proses, mulai dari komoditas dasar hingga produk jadi barang dan jasa – dan mengelola informasi. Di dalam rantai pasokan, kemudian terdapat sebuah fungsi yang dikenal sebagai logistik. Fungsi logistik ini terdiri atas sejumlah aktivitas: pengadaan (procurement), transportasi – distribusi, warehouse – operations, mengelola persediaan, layanan pelanggan, mengelola informasi dan transaksi hingga demand forecast. Berdasarkan semua aktivitas yang dilakukan, pada dasarnya logistik merupakan enabler bagi rantai pasokan; logistik-lah wujud dari manajemen rantai pasokan, yang mengelola informasi yang diperlukan hingga mengalirkan material kepada setiap pihak yang terlibat didalamnya hingga menyampaikannya kepada konsumen akhir secara tepat waktu, tepat jenis, tepat jumlah, tepat kualitas dan dengan cara yang efisien.

Saat ini semua aktivitas logistik tersebut dapat dijalankan di bawah satu atap melalui apa yang kita kenal sebagai distribution center. Beberapa jenis perusahaan bisnis ada yang secara khusus memainkan perannya dalam rantai pasokan sebagai intermediary, seperti Walmart, yang menjembatani manufaktur atau produsen dengan pasar dan beroperasi untuk memenuhi kebutuhan dengan cara ritel maupun langsung kepada konsumen akhir. Namun ada juga manufaktur atau produsen yang sekaligus juga menjalankan perannya sebagai intermediary, ini berarti mendistribusikan produknya sendiri secara langsung.

Bagi para intermediary lazim terjadi bahwa mereka menerima atau mengadakan komoditas produk dari berbagai sumber, menyimpannya dan kemudian mendistribusikannya kepada konsumen. Alih-alih menyebarkan beragam aktivitas logistik dibeberapa tempat terpisah, maka sebuah perusahaan bisnis yang berperan sebagai  intermediary dalam rantai pasokan dapat mengambil keunggulan jika menyatukan semua aktivitas logistik tersebut di bawah satu atap dalam konsep distribution center – apakah dikelola sendiri, atau outsource kepada 3 PL. Di dalam distribution center, beragam jenis produk, baik dari produsen atau pihak lain dalam rantai pasokan (seperti pemasok non-manufaktur), diterima, disimpan kemudian didistribusikan ke grosir, pedagang eceran atau langsung ke konsumen akhir. Dengan demikian, share sumber daya untuk beragam aktivitas layanan, penyimpanan persediaan bagi beragam konsumen dan distribusinya  bisa dilakukan; dan lagi dengan menjalankan sejumlah aktivitas logistik di bawah satu atap akan memudahkan koordinasi antar proses yang terjadi di beragam aktivitas tadi. Dengan demikian respon pelayanan dapat dipertahankan terus menerus. Di era global ini, pelaku intermediary, seperti Walmart, yang menjalankan fungsi logistik sebagai bagian dari aktivitas bisnisnya dihadapkan pada sejumlah tantangan, namun ada dua diantaranya yang paling penting: harga komoditas produk dan dependabilitas.

Pertama, konsumen dihadapkan pada pilihan ini: harga. Ketika ingin membeli satu jenis produk, pada akhirnya konsumen kemudian akan selalu membandingkan harga dari produk yang sama yang dijual di tempat lain, dan informasi ini, dengan kemajuan TIK, bisa di dapatkan dengan mudah, kita hanya perlu mengakses web site. Jadi perusahaan bisnis yang berperan sebagai intermediarry harus selalu mampu mempertahankan agar harga jual produk yang didistribusikannya tetap kompetitif, lebih baik kalau bahkan bisa lebih rendah dari pesaingnya. Kedua, dependabilitas, mampu mempertahankan ketersediaan komoditas produk setiap kali ada permintaan. Tantangannya adalah  sulitnya memprediksi permintaan. Artinya, kita tidak ingin membeli dan menyimpan persediaan yang berlebihan, karena ketika permintaan tidak sebesar persediaan yang kita simpan, itu akan menjadi beban dan menumpuk di tempat penyimpanan, sehingga sering keputusan diskon harus diambil untuk menyiasati situasi ini. Namun di sisi lain kita juga tidak ingin membeli dan menyimpan persediaan terlalu sedikit, karena ketika permintaan melebihi persediaan yang disimpan, konsumen tidak menemukan apa yang mereka inginkan saat berbelanja dan dampaknya, kita tidak sekedar kehilangan penjualan di hari itu, namun juga berpotensi untuk kehilangan konsumen selamanya. Kedua tantangan ini diperburuk oleh siklus hidup produk yang singkat saat ini, terutama produk fashion dan elektronik. Inovasi terjadi semakin cepat, sehingga produk baru masuk dan keluar lebih cepat, yang membuat prediksi atas permintaan manjadi jauh lebih sulit. Tantangannya adalah menyeimbangkan semua faktor ini untuk membangun sebuah kemampuan logistik dengan biaya rendah sekaligus dependable.

Ada banyak cara bagi perusahaan bisnis untuk mensiasati hal ini. Salah satunya, yang pasti, perusahaan bisnis harus mendapatkan komoditas dengan harga murah dari rekan pemasoknya. Namun lebih dari sekedar mendapatkan harga yang lebih murah, para intermediarry perlu lebih dalam mencari cara untuk menjalin kerjasama yang saling menguntungkan antara dirinya dengan mitra pemasok. Dan lagi, mendapatkan pemasok yang sudi memberi harga produk yang lebih murah bukanlah akhir, karena yang menentukan pada akhirnya adalah bahwa total keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan aktivitas operasi harus mampu mendorong harga produk yang lebih kompetitif di pasar. Jadi improvement pada proses bisnis internal yang akan meningkatkan produktivitas dan menurunkan biaya perlu dilakukan.

Improvement lain apat dilakukan di sepanjang rantai pasok dengan memanfaatkan teknologi informasi & telekomunikasi. Semakin cepat kita bisa mendapatkan informasi dari sebuah toko yang dipasok tentang apa yang dibeli oleh konsumen – produk, model, warna  dan lainnya – semakin cepat kita bisa mengirimkan informasi tersebut kepada manufaktur atau produsen dan semakin cepat mereka dapat mempersiapkan dan menyediakannya kembali komoditas untuk memenuhi permintaan. Teknologi informasi tingkat lanjut juga dapat memberi informasi tentang ke mana komoditas produk, setiap saat, seharusnya diarahkan. Jika misalnya permintaan tinggi di suatu tempat, dan sementara lebih rendah dari yang diperkirakan di tempat lain, logistik kita dapat mengarahkan komoditas produk tersebut ke tempat yang permintaanya lebih tinggi.

Sebagai contoh, Zara yang sangat mahir dalam hal ini dan mengungguli pesaingnya. Zara berdiri dengan motto bahwa lebih menguntungkan dengan mengatasi kekurangan daripada terlalu banyak menimbun persediaan, dan kemudian merespons kekurangan dengan kecepatan kilat sehingga dapat menawarkan kepada konsumen apa yang mereka inginkan dengan risiko yang jauh lebih sedikit bagi Zara sendiri. Zara kemudian berinvestasi besar-besaran pada kecanggihan TIK, yang bisa memberi informasi  kepada semua manajer toko untuk memantau preferensi pelanggan dan kemudian mengirimkan kembali informasi tersebut langsung ke bagian perencanaan. Cara ini mengurangi waktu eksekusi tak lebih dari 30 hari untuk mendapatkan produk baru sejak dari disain hingga produk tersebut dipajang di rak penjualan. Apa keunggulan yang didapatkan Zara dari sini adalah mereka dapat menunda keputusan disain sampai mendapat informasi hingga menit terakhir dari tokonya sehingga dapat memprediksi permintaan dengan sangat akurat. Dengan merencanakan dengan lebih baik untuk mengatasi risiko selera konsumen yang berubah-ubah dengan cepat, memberi kesempatan bagi Zara untuk siap beradaptasi  menghadapi kejadian tak terduga. Strategi ini dikenal dalam bisnis sebagai penundaan. Ketika permintaan menjadi semakin sulit untuk diprediksi, perusahaan yang baik menemukan cara untuk memberi nilai tambah pada produk mereka sampai saat terakhir.

Ini semua adalah contoh cara untuk mengatasi tantangannya  menyeimbangkan faktor harga dan dependabilitas. Semuanya bertujuan untuk membangun sebuah kemampuan logistik dengan biaya rendah sekaligus dependable.  Pemain intermediarry dengan biaya logistik yang rendah dapat memberi harga produk yang lebih bersaing di pasar, dan dengan improvement di bidang TIK dapat mengatasi sulitnya memprediksi permintaan sehingga bisa membangun dependabilitasnya. Ketika ini dicapai, maka peluang perusahaan untuk memperbesar volume penjualan dan market share menjadi lebih besar, seperti contohnya WalMart, dan itu berarti kita menjadi salah satu pemain dominan di rantai pasokan. Ketika kita menjadi pemain dominan dengan penguasaan volume dan market share yang besar, kita memiliki pengaruh untuk mampu mengendalikan banyak hal di rantai pasokan. Kita akan segera mendapat kepercayaan dan kerja sama dari para mitra, dan memiliki kekuatan untuk meminta produsen atau pemasok untuk menurunkan harga dan berkolaborasi dengan standar tertentu yang kita tetapkan. Dengan demikian, logistik berbiaya rendah dan dependable merupakan salah satu gaya flattener yang mempengaruhi kekuatan pelaku yang bisa mencapai hal ini di rantai pasokan.

Insourcing, Kesempatan Berperan Dalam Rantai Pasok

Kemajuan di bidang TIK, seperti yang telah dijelaskan di atas sebagai salah satu gaya flattener, memungkinkan banyak aktivitas bisa di outsource melintasi hambatan wilayah, jarak, waktu dan akses informasi. Salah satu keunggulan lain dari kemajuan TIK ini adalah, digitalisasi. Apapun yang bisa digitalisasikan dengan teknologi TIK, bisa di outsource dengan mudah kemana saja. Dan kecendrungannya sekarang adalah digitalisasi pada proses bisnis dari aktivitas operasi perusahaan.

Ketika dunia makin datar (flat) atau dengan kata lain kesempatan bersaing dan keran investasi asing di sebuah pada sebuah negara semakin terbuka lebar, perusahaan, dan bahkan individu, dapat beroperasi dimana saja. Begitu juga produk barang dan jasa dapat menyebar mengatasi hambatan wilayah. Akses internet dan website mengkoneksikan orang dengan banyak jenis produk dari manapun. Permintaan akan produk barang atau jasa, bisa berasal dari belahan bumi yang mana saja untuk setiap jenis produk yang juga bahkan berada di manapun.

Misal, kita menginginkan satu jenis produk barang, yang bisa berada dimanapun, yang kita lihat di sebuah web site. Tentu saja tangible produk barang tersebut tidak bisa di digitalkan, jadi produk barang tersebut harus hadir bersama kita agar bisa di konsumsi. Namun proses untuk mendapat produk tersebut yang bisa didigitalisasikan, mulai dari memilih produk di web site, transaksi pembelian, dan proses pesan – kirim untuk menyampaikan produk tersebut ke tempat kita yang kita bahkan bisa memilih perusahaan ekspedisi yang kita inginkan. Sebuah perusahaan e-commerce yang memajang beragam jenis produk  di website-nya pada membagi-bagi banyak proses bisnis yang ada di dalamnya untuk ditangani oleh berbagai pelaku. Transaksi pembelian langsung di tangani oleh bank, dan pesan – kirim di outsource ke perusahaan ekspedisi. Atau ketika kita ingin makan steak, tentu saja steak-nya tidak bisa di digitalisasikan, jadi kita tetap harus hadir di sebuah restoran, atau memesannya untuk di kirim ke tempat kita, namun proses reservasi untuk mendapat tempat di restoran steak, atau memesan makanan tersebut untuk dikirim ke tempat kita yang bisa didigitalisasikan. Sejumlah perusahaan penyedia steak, kemudian melakukan outsource pada proses reservasi dan pengiriman makanan untuk dikerjakan pleh pihak lain. Jadi alih-alih menangani sejumlah aktivitas dengan banyak sumberdaya dan biaya, sejumlah perusahaan kini, memanfaatkan apa yang bisa dikembangkan dari TIK dan memilih untuk lebih fokus pada kompetensi dan value yang bisa dibangunnya dan melakukan outsource pada sisanya.

Dengan demikian, ada semakin banyak peluang dimana kita bisa mengambil peran yang kita inginkan dari sebuah rantai pasokan. Kami mengutip contoh kasus dalam UPS (United Parcel Services) seperti yang disajikan oleh Friedman. Bisnis konvensional UPS dalam rantai pasokan adalah layanan ekspedisi. Konsumen yang ingin mengirimkan atau mendatangkan barang ke atau dari suatu tempat akan menggunakan jasa UPS. Itu dulu.

Memanfaatkan peluang dari komputer rusak Toshiba, UPS mengembangkan bisnisnya dan memainkan perannya sebagai salah satu gaya flattener. Konsumen Toshiba yang ingin memperbaiki komputernya yang rusak akan mengirimkan komputernya ke pusat perbaikan Toshiba melalui UPS yang selanjutnya diteruskan oleh UPS ke Toshiba, dan sebaliknya Toshiba meminta UPS untuk mengirimkan kembali komputer yang telah di perbaiki kepada konsumennya. Alih-alih melakukan kegiatan ekspedisi ini, UPS mengambil kesempatan untuk memangkas panjangnya proses reparasi komputer dan menawarkan sebuah value kepada Toshiba untuk mengambil alih peran reparasi komputer dengan sumber daya UPS yang disertifikasi oleh Toshiba, sehingga reparasi komputer Toshiba bisa dilakukan oleh UPS (insourcing). Dan jangan kaget kalau misalnya, perangkat elektronik di rumah kita rusak dan memerlukan perbaikan maka yang datang ke rumah kita untuk memperbaiki adalah petugas berseragam UPS sejauh kita berada dalam wilayah layanan mereka.

Pada banyak kesempatan UPS telah mengambil alih banyak aktivits dalam rantai pasokan masuk ke dalam bisnis intinya. Synchronized Commerce Solution, konsep yang dikembangkan oleh UPS membuat mereka masuk lebih dalam ke banyak perusahaan bisnis  – seperti India – dan menjadikan sebagian aktivitas  perusahaan bisnis tersebut menjadi bagian dari aktivitas UPS, mulai dari ekspedisi (pick – deliver produk jadi hingga makanan segar, dan layanan pengiriman uang) hingga melakukan inspeksi, pengemasan, layanan perbaikan kerusakan dan penggantian parts (komputer dan elektronik), konsultasi (disain dan analisis proses bisnis manufaktur dan distribusi global), pembiayaan dan layanan transaksi pembayaran, hingga mengambil alih secara besar-besaran aktivitas logistik sebuah perusahaan dan mengelola rantai pasoknya.

Konsumen UPS berada dalam segala range. Perusahaan besar hingga perusahaan kecil dan individu yang menjalankan bisnisnya dari rumah. Bagi perusahaan besar, menjalin kolaborasi dengan perusahaan sejenis UPS berarti the big to act small: mengurangi banyak aktivitas dan biaya, serta lebih fokus kepada kompetensi inti dengan value-nya; dan UPS melalui insourcing membantu banyak perusahaan menjalankan aktivitas operasinya secara global dengan efisien dan dependable. Bagi persuahaan kecil berarti the small act to big. UPS menawarkan kepada individu dan usaha kecil kekuatan globalnya pada layanan rantai pasokan dan memberi reputasi besar pada perusahaan kecil untuk dilihat dan menemukan perannya dalam persaingan global. Itu adalah kesempatan dan peran yang dapat diambil oleh perusahaan sejenis UPS untuk menjadi salah satu gaya flattener.

Moral ceritanya adalah, di dunia yang semakin flat, semakin tingginya tingakt persaingan justru diiringi oleh semakin banyaknya kesempatan untuk memilih peran yang akan kita mainkan dalam rantai pasokan. Insourcing seperti yang dilakukan UPS adalah salah satunya. Dengan dukungan aktivitas operasi yang efisien dan dependable, sumber daya manusia dan TIK, banyak perusahaan bisa mencapai seperti apa yang di capai oleh UPS.

***

Demikianlah pokok-pokok pandangan yang kami ringkas dari 10 flattener dalam buku The World Is Flat. Apa yang disampaikan melalui buku tersebut adalah hasil penelitian penulisnya. Itu yang sedang terjadi pada dunia sejak keruntuhan Tembok Berlin tahun 1989. Pendataran dunia karena gaya flattener tersebut bukannya tanpa tantangan. Yang jelas, satu hal yang kami tangkap ketika selesai membaca buku adalah bahwa persaingan semakin ketat di segala aspek sosial, budaya, politik dan ekonomi, tidak baik bagi negara maju dan juga pada negara berkembang yang tidak mengantisipasi munculnya kekuatan baru dan dampak yang diakibatkannya.  Terkait dunia bisnis, jika pada flattener versi 1.0 dan 2.0 – dalam istilah Friedman – persaingan berada di level perusahaan bisnis, maka pada flattener 3.0 persaingan sudah mencapai hingga ke level individu secara global. Tapi apa yang disampaikan Friedman, walaupun mengkhawatirkan, bukanlah sesuatu yang harus di takuti,  karena sebaliknya, pendataran dunia juga diiringi oleh sejumlah peluang, dan lebih lanjut beberapa rekomendasi solusi juga diajukan oleh sang penulis kepada kita. Hal-hal tersebut, akan kami ringkas di lain kesempatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s