The Division Of Labor

DivisonofLabor

Komoditas  – dengan nilai guna (value in use) dan nilai tukar (value in exchange) yang terkandung di dalamnya –  adalah perwujudan dari pemenuhan kebutuhan dan kesenangan hidup. Dalam masyarakat pembagian kerja (division of labor), di mana spesialisasi yang terjadi begitu kuat, kita hanya membuat atau memproduksi sebagian saja dari kebutuhan kita dan selebihnya bergantung pada hasil produksi  orang lain. Kita kemudian mempertukarkan komoditas yang kita produksi dengan komoditas orang lain. Sehingga komoditas juga diproduksi justru agar kita bisa memperoleh komoditas lain yang dibutuhkan. Hal ini dimungkinkan karena kita tidak memiliki semua kemampuan untuk memproduksi semua komoditas yang kita butuhkan, beberapa kemampuan untuk menghasilkan komoditas lain yang kita butuhkan hanya bisa dikerjakan oleh orang lain; dan di sisi lain, kita juga harus menghindari usaha, kerja keras dan resiko yang tidak dapat kita tanggung ketika kita mencoba menghasilkan komoditas dengan kerja kita, jadi kita harus mendapatkannya dari orang lain dengan bertukar atau membeli dengan uang. Tapi apapun, kerja (labor) dituntut untuk  memenuhi kebutuhan hidup; dalam hal ini menghasilkan komoditas barang atau jasa sebagai perwujudan pemenuhan kebutuhan hidup, yang digunakan secara langsung untuk konsumsi, maupun untuk dipertukarkan dengan komoditas lain atau dipertukarkan dengan sejumlah nilai uang atau emas dan perak.

Labor adalah kerja atau upaya, kemampuan untuk mewujudkan tujuan atau mencapai hasil tertentu oleh si pekerja yang bersangkutan. Dalam pandangan Adam Smith, kemampuan kerja-lah yang berperan dan menjadi pondasi dalam memasok komoditas barang dan jasa yang diperlukan untuk memenuhi segala kebutuhan dan kenyamaman hidup yang dikonsumsi. Kerja mengubah sumber daya yang tersedia (seperti sumber daya alam, dan uang, atau emas dan perak) menjadi komoditas yang diperlukan untuk memenuhi semua kebutuhan hidup. Sehingga sumber daya alam, uang, dan emas atau perak tidaklah cukup memberi arti tanpa adanya keterlibatan kerja. Tapi sebuah bangsa atau masyarakat selalu menghadapi kondisi keterbatasan dimana tidak semua anggota masyarakat yang ada dapat difungsikan kedalam satu kemampuan kerja yang berguna bagi upaya-upaya untuk memasok komoditas yang diperlukan untuk memenuhi segala kebutuhanhidup. Sehingga dengan demikian, hanya ada sejumlah tertentu saja dari kemampuan kerja yang dapat difungsikan bagi terselenggaranya pemenuhan kebutuhan hidup. Karena tantangan ini, maka kecukupan atau kelangkaan komoditas barang dan jasa sepenuhnya sangat bergantung pada upaya-upaya untuk meningkatkan kekuatan produktif dari “kerja” tadi. Peningkatan kekuatan produktif melalui peningkatan pada skill dan dexterity kemudian hanya dapat dilakukan melalui sebuah pembagian kerja atau division of labor. Bagaimana kemudian pembagian kerja dapat meningkatkan produktivitas melalui peningkatan skill dan dexterity, dijelaskan lebih lanjut berikut ini:

  1. Dalam pembagian kerja, pekerjaan untuk menghasilkan produk akhir dibagi kedalam sejumlah bagian-bagian atau cabang pekerjaan dengan masing-masing keahlian pekerjanya. Seluruh waktu kerja dari masing-masing bagian  hanya difokuskan untuk satu bagian pekerjaan. Ini memungkinkan setiap sub kerja menghasilkan jumlah output yang lebih banyak.
  2. Pembagian kerja mengurangi banyak aktivitas pekerjaan yang sebelumnya harus dilakukan oleh satu orang. Sehingga dengan pembagian kerja setiap orang hanya fokus pada satu jenis pekerjaannya.  Dengan mejadikan pekerjaan tersebut satu-satunya pekerjaan (spesialisasi) dalam kehidupan seseorang maka akan meningkatkan keterampilan dan ketangkasan dalam bidang pekerjaannya. Peningkatan ketrampilan dan ketangkasan  akan meningkatkan jumlah output pekerjaan yang dihasilkan
  3. Seseorang cenderung untuk  untuk menemukan metode yang lebih mudah dan lebih baik untuk mencapai objek apa pun jika perhatiannya diarahkan hanya  ke satu objek saja ketimbang terpecah pada banyak hal. Sebagai konsekuensi pembagian kerja, keseluruhan perhatian setiap orang secara alami diarahkan kepada satu objek pekerjaan yang dilakoninya. Ini membuat setiap orang dalam pembagian kerja bisa mengamati dan menemukan  metode yang lebih mudah dan lebih baik dalam melakukan pekerjaannya guna meningkatkan hasil kerjanya.

Pembagian kerja terjadi, salah satunya karena manusia tidak bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Bagian surplus dari komoditas yang dia hasilkan atau produksi dan setelah memenuhi kebutuhan konsumsinya, kemudian dipertukarkannya dengan surplus produksi orang lain. Melalui sebuah pembagian kerja yang massive , hasil karya setiap orang kemudian dapat secara alami didistribusikan dan dinikmati oleh masyarakat luas. Tindakan pelaksanaan produksi kerja dan hasil kerjanya di berbagai bidang dalam skala massive yang melintasi batas  wilayah merupakan konsekuensi pembagian kerja. Dengan demikian pada dasarnya pembagian kerja merupakan sebuah sistem pemenuhan kebutuhan yang masif; merupakan enabler bagi hubungan timbal balik koordinasi dari berbagai produksi kerja dan hasil kerjanya dari berbagai bidang; dan merupakan pilar bagi perdagangan. Distribusi produksi kerja dan hasil kerjanya secara alamiah dalam pembagian kerja memberi kesempatan kemakmuran sampai ke tingkat masyarakat terendah. Berkaitan dengan kemakmuran suatu bangsa, pembagian kerja memainkan perannya sebagai mesin kekayaan sebuah bangsa.

Landasan Yang Memotivasi Terjadinya Pembagian Kerja Secara Massive

Walaupun manusia tidak dapat memenuhi semua kebutuhannya sendiri dan karena itu secara alami membutuhkan bantuan orang lain, namun sudah merupakan salah satu sifat manusia untuk tidak ingin sepenuhnya bersandar pada belas kasih orang lain. Motivasi terjadinya pembagian kerja dengan dengan demikian, selain bersandar pada gagasan Aristoteles bahwa manusia sebagai makhluk sosial, juga bersandar atas ide one’s own interests but not necessarily at others’ expense atau self-love dari Theory of Moral Sentiments Adam Smith.

Seseorang, katakanlah si A, dengan kemampuan tertentu memproduksi atau menghasilkan jenis komoditi tertentu. Si A belum tentu mengetahui kebutuhan orang lainya pada masyarakat dimana ia berada, dan pada awalnya hanya bermaksud mengejar kepentingan dirinya sendiri untuk memenuhi kebutuhan dan tidak memproduksi komoditas guna memenuhi kebutuhan orang lain. Tapi, secara alami bila seseorang hidup dalam masyarakat, komoditi yang ia hasilkan juga merupakan komoditi yang sama yang dibutuhkan oleh orang lain. Seseorang lainnya dalam masyarakat tersebut, katakanlah si B, juga memproduksi komoditinya sendiri, ingin mendapatkan komoditi yang hasilkan si A. Tapi si A  cenderung untuk bertindak atas kepentingannya (self-love dalam istilah Adam Smith) dan lebih memilih memberi sedikit kesempatan bagi kemurahan hati, dan karena itu tidak mungkin memberikan komoditi yang dimilikinya kepada si B hanya demi kebaikan hatinya. Demi mendapatkan komoditas si A yang dibutuhkan oleh si B, maka si B kemudian menawarkan sesuatu keuntungan dari komoditi yang ia miliki kepada si A. Selanjutnya Si A memberikan komoditasnya kepada si B sebagai gantinya. Demikian pula si B yang juga memberi sedikit kesempatan pada kemurahan. Alih-alih meminta komoditas si A yang diperlukannya, si B malah menawarkan sebuah keuntungan bagi si A melalui komoditas yang ditawarkannya. Dengan cara itu si B mendapatkan komoditas milik si A yang dibutuhkannya. Dengan cara ini pembagian mengambil perannya dalam masyarakat.

Gagasan self-love (atau diartikan juga self-interest oleh beberapa pandangan lain) dan buku Theory of Moral Sentiments merupakan pengamatan Adam Smith terhadap perilaku manusia. Basically human being is capable for both generosity and self-love. Meskipun sebagai makhluk sosial manusia memerlukan banyak bantuan dari orang yang ada disekelilingnya, namun manusia tidak serta merta memberikan tangannya untuk menerima atau memberi hanya demi kebaikan atau kemurahan hati; dan kemudian cenderung untuk mengalamatkan dirinya pada self-love, apakah untuk memenuhi kebutuhannya atau ketika memutuskan untuk berinteraksi dengan orang lain. Artinya, bahwa cenderung untuk selalu ada pamrih atau hitung-hitungan untung – rugi ketika seseorang memutuskan untuk menjalin pergaulan (pergaulan = memberi dan menerima) dengan orang lain di dalam masyarakat. Itu merupakan dorongan terbesar yang muncul dari dalam diri manusia, sebagaimana yang dijelaskan oleh Adam Smith berikut ini:

“But man has almost constant occasion for the help of his brethren, and it is in vain for him to expect it from their benevolence only. He will be more likely to prevail if he can interest their self-love in his favor, and show them that it is for their own advantage to do for him what he requires of them. Whoever offers to another a bargain of any kind, proposes to do this. Give me that which I want, and you shall have this which you want, is the meaning of every such offer; and it is in this manner that we obtain from one another the far greater part of those good offices which we stand in need of. It is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest. We address ourselves, not to their humanity, but to their self-love, and never talk to them of our own necessities, but of their advantages”.

Dengan demikian, bagi kita si manusia ini, yang telah di definisikan kecendrungan karakternya oleh Adam Smith demikian adanya, maka bertindak atas kepentingan diri sendiri (self-love atau self-interest) – sepanjang tidak merugikan orang lain – bahkan dianggap tidak egois ketimbang meminta kemurahan hati seperti yang ditunjukkan dalam cerita puppy fawns upon its dam. Berdasarkan kecendrungan karakteristik manusia yang demikian adanya, maka tidak berdasar bahwa pembagian kerja dapat dibangun dengan landasan kemurahan hati untuk beberapa alasan:

  1. Kemurahan hati tidak memberi keuntungan bagi kepentingan seseorang
  2. Tidak ada kesempatan untuk melakukan perdagangan atau pertukaran yang adil.
  3. Sebagaimana yang diilustrasikan oleh Adam Smith dalam puppy fawns upon its dam, meminta untuk kemurahan hati adalah tindakan yang sulit dilakukan dan manusia tidak bisa melakukan ini setiap saat, sehingga manusia tidak dapat terus menerus mengandalkan atau bersandar dari kemurahan hati seseorang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. 
  4. Dan yang terakhir, dengan mengandalkan hanya pada kemurahan hati, manusia tidak dapat memenuhi semua kebutuhannya: seberapa banyak seseorang memberi karena dorongan kemurahan hatinya? Alih-alih hanya bersandar pada kemurahan hati, maka seseorang lebih perlu bertindak demi kepentingannya sendiri – sejauh tidak merugikan orang lain – untuk mencukupi kebutuhannya.

Bertindak demi kepentingan dirinya sendiri untuk memenuhi kebutuhan, tanpa menjadi beban bagi orang lain, seorang tukang daging tidak memohon tentang betapa miskin keluarganya. Dia memotong daging dan memangkas lemak sambil menawarkan bahwa apa yang dia lakukan merupakan keuntungan bagi orang lain yang membutuhkan dagingnya, dan mendapatkan keuntungan dari setiap sayatan yang dia lakukan.  Cerita Adam Smith yang lain, two greyhounds, menjelaskan bahwa secara alami manusia cenderung untuk melakukan pertukaran yang adil dan saling menguntungkan. Sehingga dengan demikian menjadi lebih mungkin bagi manusia untuk mendapatkan kesempatan lebih luas memenuhi kebutuhannya berlandaskan semangat self-love ketimbang kemurahan hati.  Dimana dalam semangat self-love ini tawar menawar dan pertimbangan untung – rugi mendapat tempat seluas-luasnya. Itu kemudian yang menjadi landasan terbangunnya pembagian kerja secara massive: karena setiap orang bisa mendapat kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari sana.

Pasar Bebas adalah Bentuk Pembagian Kerja Massive Lintas Batas Wilayah dan Invisible Hand adalah Mekanisme Yang Mengatur Keseimbangan Pasar Bebas.

Dalam pandangan Adam Smith, pembagian kerja adalah sesuatu yang terlepas  dari pengaruh Negara. Ini disebabkan, seperti yang telah dijelaskan di atas, karena pembagian kerja bersumber dari dorongan self-love kepentingan diri untuk dapat melakukan pertukaran atau transaksi yang adil dan saling menguntungkan; artinya self-love atau kepentingan diri seseorang tidak berasal atau dibentuk dari aturan apapun, namun, sekali lagi, itu berasal dari dorongan dalam diri manusia.

Dengan berlandaskan self-love kepentingan diri, manusia telah mencapai pertukaran adil yang saling menguntungkan. Namun, lagi-lagi sudah menjadi sifat dasar manusia juga untuk ingin semakin meningkatkan keuntungannya, dan ini membuat dia harus berinteraksi kepada lebih banyak orang dengan wilayah yang lebih luas. Sehingga, menyimpulkan dari apa yang Adam Smith telah sampaikan landasannya, apa yang dimaksud pasar bebas hari ini pada dasarnya adalah sebuah skala massive dari transaksi atau pertukaran adil yang saling menguntungkan antar individu melewati batas wilayah dalam sebuah pembagian kerja, yang didorong oleh self-love kepentingan diri.

Dengan demikian pasar bebas atau free market terlepas dari campur tangan negara. Dan yang lebih penting adalah bahwa dorongan untuk bertindak berdasarkan kepentingan diri guna memenuhi semua kebutuhan adalah merupakan sifat manusia yang cenderung untuk tidak dapat dibendung. Sifat ini selalu cenderung untuk senantiasa mencari bentuk atau mendobrak rintangan yang ada di depannya. Lihat saja globalisasi hari ini, semakin mengecilnya hambatan jarak, waktu, biaya, akses informasi dan batas wilayah: ini merupakan bentuk pendobrakan yang didorong oleh self-love atas rintangan yang dihadapinya dalam rangka memenuhi semua kebutuhan dirinya. Selain itu, bahwa negara, paling tidak meminimalkan peran campur tangannya karena pasar bebas dipercaya oleh Adam Smith telah diatur oleh sebuah mekanisme invisible hand yang menyeimbangkan permintaan dan penawaran tanpa perlu regulasi apapun.

Tapi pembagian kerja ini juga bukannya tanpa kelemahan. Masa itu, jauh sebelum era globalisasi seperti sekarang ini, keterisolasian merupakan tantangan terbesar bagi pembagian kerja. Pembagian kerja dibatasi oleh luas pasar. Ketika pasar sangat kecil, tidak ada orang yang dapat mengabdikan dirinya hanya kepada satu pekerjaan, dengan kata lain, karena perlu mencukupi kebutuhan dengan menukar semua bagian surplus dari hasil kerja sendiri, yang melebihi dan melampaui konsumsinya, seseorang  harus berpartisipasi dalam beberapa pekerjaan yang berbeda sekaligus. Sehingga pembagian kerja hanya dapat terjadi di tempat  dengan komunitas besar atau tempat tertentu dengan akses perdagangan terbuka. Tempat yang demikian menjaga potensi kebutuhan tetap tinggi.  Konsekuensinya adalah, negara-negara perdagangan modern dengan akses perdagangan mereka yang terbatas perlu mengambil keputusan untuk memperluas akses perdagangan mereka untuk menjamin  kemakmurannya. Pembagian kerja juga rentan terhadap ketergantungan pada kelompok atau wilayah yang dominan dalam keterampilan dan sumber daya. Ini memungkinkan kelompok atau wilaya dominan mengendalikan industri. Namun bagaimanapun, pembagian kerjamerupakan salah satu  gagasan terpenting dan berpengaruh. Pembagian kerja telah memberikan keunggulan dan  menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan bagi ekonomi modern sedemikian rupa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s