Penggunaan Uang

MoneyMoneyMoney

Dalam pembagian kerja (division of labor), tiap anggota masyarakat memproduksi komoditasnya masing-masing. Di masa awal pembagian kerja, pemenuhan kebutuhan dilakukan dengan mempertukarkan komoditas. Sebuah komoditas dapat dipertukarkan dengan komoditas lain disebabkan karena komoditas itu sendiri memuat dua unsur di dalamnya, yaitu nilai guna (value in use) dan nilai tukar (value in exchange). Nilai guna adalah manfaat yang kita dapatkan ketika mengkonsumsi komoditas tertentu. Karena komoditas memiliki kegunaan atau manfaat tertentu bagi yang membutuhkannya, maka secara mendasar komoditas tersebut juga mengikat nilai tukarnya (ada harganya karena ada kegunaannya). Dengan nilai gunanya tersebut, komoditas memberi kekuatan kepada seseorang untuk  untuk mendapatkan komoditas lain, secara barter atau dengan perantaraan uang. Dengan demikian, dalam sebuah perekonomian, komoditas juga diproduksi justru agar kita bisa mendapatkan komoditas lainnya yang kita perlukan namun tak dapat kita penuhi melalui upaya kerja yang kita lakukan sendiri.

Namun pertukaran komoditas dengan komoditas (barter) bukannya tanpa kendala. Barter hanya dapat dilakukan bila menemukan keinginan yang saling sesuai dalam segala hal. Jika seseorang dengan komoditas tertentu ingin menukarkan komoditasnya dengan komoditas orang lain untuk memenuhi kebutuhannya, sementara orang lain tersebut telah menyimpan komoditas yang sama, maka pertukaran tidak akan terjadi. Kemudian sangat sulit untuk membuat ukuran nilai tukar dari satu komoditas ke komoditas lain. Walaupun pada masa itu telah digunakan instrumen yang memfasilitasi pertukaran yakni dengan menggunakan komoditas yang dianggap merupakan kebutuhan umum yang dapat diterima secara luas, seperti komoditas tembakau dan garam, namun operasional transaksi barter seperti ini cukup rumit dan tidak mungkin dilakukan tanpa ada potensi kerugian di salah satu pihak yang bertransaksi seperti penjelasan Adam Smith berikut:

“Man who wanted buy salt, for example, and had nothing but cattle to give in exchange for it, must have been obliged to buy salt to the value of a whole ox, or a whole sheep, at a time. He could seldom buy less than this, because what he was to give for it could be seldom be divided without loss; And if he had a mind to buy more, he must, for the same reasons, have been obliged to buy double or triple the quantity, the value, to wit, of two or three oxen, or of two or three sheep”.

Instrumen yang dapat diterima secara luas untuk menfasilitasi pertukaran dan sekaligus dapat berlaku sebagai instrumen pengukur/penaksir atas nilai komoditas yang dipertukarkan menjadi diperlukan. Komoditas logam, seperti besi, tembaga, emas dan perak kemudian diaplikasikan sebagai instrumen pertukaran karena beberapa kelebihannya. Komoditas logam tahan lama dan dapat disimpan dengan sedikit kerugian dibandingkan komoditas lainnya. Logam juga dapat, tanpa kerugian, dibagi menjadi beberapa bagian, dan kemudian dilebur kembali untuk tujuan penggunaan lain saat diperlukan. Karakteristik ini yang tidak dimiliki oleh komoditas lain dan ini membuat logam tersebut dipilih menjadi instrumen yang cukup tepat untuk memfasilitasi pertukaran dalam perdagangan dan sirkulasi. Alih-alih domba atau sapi, masyarakat yang bertransaksi memiliki logam untuk diberikan sebagai ganti dalam jumlah yang tepat untuk menakar nilai komoditas yang hendak didapatkannya. Dan dengan adanya instrumen yang memfasilitasi pertukaran ini juga memudahkan bagi masyarakat untuk segara dapat memenuhi kebutuhannya.

Namun, perkembangan awal penggunaan beragam logam dengan ukuran berat sebagai uang bukannya tanpa tantangan. Berat dan keaslian logam kerap menjadi sasaran kecurangan pada masa itu. Sehingga pengukuran berat dengan presisi dan pengujian keaslian logam perlu dilakukan saat transaksi pertukaran terjadi. Dan bukanlah hal yang menyenangkan jika instrumen yang memfasilitasi pertukaran rentan terhadap pemalsuan dan kecurangan lainnya. Tanpa adanya upaya perbaikan, maka pnggunaan logam sebagai uang hanya menyisakan kesempatan yang kecil saja bagi keberlanjutan eksistensinya. Negara kemudian melakukan campur tangan untuk menjamin kekuatan instrumen tersebut. Ketidaknyamanan dan kesulitan menimbang logam dengan ketepatan, dan untuk mencegah penyalahgunaan serta untuk memfasilitasi pertukaran yang adil, cap publik ditempelkan pada logam tertentu oleh institusi yang ditunjuk. Ini adalah asal uang yang diciptakan. Koin seperti itu kemudian dapat diterima bahkan kemudian dengan metode tally (jumlah kepingan) tanpa perlu menimbang. Denominasi koin-koin itu awalnya mengekspresikan berat atau kuantitas logam yang terkandung di dalamnya. Sebagai penjelasan Adam Smith: 

“The first coined money at Rome in the time of Servius Tullius contained a Roman pound of good copper. It was divided into twelve ounces, each of which contained a real ounce of good copper; or The English pound sterling, in the time of Edward I. contained a pound, Tower weight, of silver of a known fineness. This gives a guarantee and a power over a certain quantity of metal commodities to be exchanged for a number of other commodities as other Smith’s explanation “when wheat is at twelve shillings the quarter,” and “wastel bread of a farthing shall weigh eleven shillings and four pence”.

Namun, seperti yang disampaikan di awal, uang, yang dijamin oleh emas atau perak, tak lain hanyalah instrumen yang memfasilitasi pertukaran komoditas dengan komoditas. Walaupun memberi kesempatan bagi kita untuk membeli kebutuhan, tapi tak serta merta bisa membeli apapun. Uang tak bisa mengatasi kelangkaan komoditas yang terjadi. Bila karena sesuatu hal komoditas yang kita butuhkan tidak ada di pasar, maka uang tidak bisa simsalabim mengatasi kelangkaan tersebut. Karena kendala tersebut ada di proses bisnis, bukan pada insturmen pertukarannya. Jika material pendukung produksi langka, maka manufaktur atau bahkan sebuah industri terpaksa menghentikan operasinya, dan uang tak bisa mengatasi kendala tersebut. Uang tidak bisa mengatasi kelangkaan atau ketiadaan komoditas, karena uang tak bisa membuat atau memproduksi komoditas; uang hanya bisa membayar bagi faktor produksinya jika faktor produksinya tersedia. Tak ada yang lebih penting dari air atau bahan pangan. Air atau bahan pangan memiliki nilai guna tinggi, tapi tidak pada nilai tukar, sehingga tidak dipilih menjadi instrumen yang memfasilitasi pertukaran, walaupun orang akan kesulitan menjalani hidup tanpa air dan bahan pangan. Emas, perak atau berlian rata rata hanya memiliki nilai guna sebagai pajangan, dalam arti nilai gunanya rendah, namun memiliki nilai tukar yang tinggi, walaupun orang masih akan bertahan hidup tanpa emas atau perak asalkan ada jaminan ketersediaan pangan. Jadi, pembaca, itulah uang. Hanya instrumen yang memfasilitasi pertukaran. Dan uang menjadi instrumen tersebut sejauh hanya karena kita sepakat untuk menerimanya. Dan kita menerimanya adalah untuk apa yang kita bisa dapatkan dengan menggunakan uang tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s